Ada banyak orang yang dengan mudah akan membalas cacian dengan cacian pula, amarah dengan amarah, tidak disapa dengan tidak menyapa pula, benci pun dibalasnya dengan kebencian bahkan kadang lebih kejam.
Tidakkah kita belajar untuk membalut diri ini dengan kesantunan, keramah-tamahan dan perilaku yang karimah. Kesantunan, keramahtamahan dan akhlaq yang baik bak minyak wangi yang selalu menebar keharuman di mana-mana, tidak hanya untuk diri sendiri. Wewangian akan selalu menusuk hidung siapapun tak terkecuali bagi mereka yang berbau busuk karena sifat dan sikap yang kurang santun. Wanginya sikap santun, wanginya ramah dengan semua orang, wanginya kasih sayang kepada semuanya tidak hanya untuk sang pacar adalah bunga yang mekar dan semerbak tak ubahnya taman-taman yang indah sepanjang menuju pintu surga Allah swt.
Ada orang yang bercerita pada kawannya: “Aku kemarin hendak menjual mobilku. Lalu mobil itu aku tempeli dengan tulisan “DI JUAL” dibagian depan, belakang dan samping kanan, lalu aku parkirkan mobilku di tepi jalan persis di depan pagar rumah orang. Tidak lama kemudian muncullah lelaki tua dengan mengacung-acungkan parang sambil berteriak lantang; “Bawa pergi mobil jelekmu, jangan kau parkir di depan pagar rumahku, nanti mobil tamu-tamu dan kerabatku tidak bisa parkir karenamu, pergi sana!”.
Mendengar suara lantang dari lelaki tua itu, aku pun segera membalas dengan suara yang tak kalah galaknya sambil ku dorong mobilku untuk keluar areal yang diinginkan; “Hai, orang jahat sepertimu tidak akan punya tamu, kerabat-kerabatmu tidak akan mau mengujungimu, mereka lebih memilih untuk mengajak anak dan keluarganya ke kolam renang, pantai dan taman hiburan lainnya. Siapa yang peduli untuk mengujungimu, segera tutup pintumu, brengsek!”
Namun, berlahan-lahan aku kembali undurkan mobilku seperti semula, sambil aku berteriak dan melambaikan tangan kepadanya; “Maaf, tuan, maaf. Terimakasih atas tegurannya...”. Dengan spontan pula, lelaki yang tadinya galak, membalas lambaian tanganku sambil meletakkan parang yang tadi digenggam, dia pun tersenyum sambil membalikkan badan dia masuk rumah dengan membiarkan pintunya tetap terbuka.
Jika aku mengingat peristiwa itu, aku merasa bahagia. Rasa-rasanya baru sekali ini aku merasa menjadi diriku sendiri, aku tidak mau didekte oleh kejelekkan orang lain, aku tidak mau mengukir amarah karena amarah orang lain.
Sejatinya kebajikan telah ada pada diri kita masing-masing, kita berbuat baik tanpa menunggu orang lain. Begitupun kejelekan orang lain tidak harus mendikte perjalanan hidup ini. ”Balaslah kejelekkan itu dengan kebaikan”.
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
”Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” [SURAT AL FUSHSHILAT ; 34]
Sungguh, Allah telah mengajarkan kepada hambanya untuk selalu belajar santun, berbuat baik sebagaimana bisikkan nuraninya dan bukan mengikuti hawa nafsunya. Jadi orang baik serasa tidaklah susah, hanya butuh pe-RASA-an untuk rela melumurkannnya dalam bingkai kehidupan disetiap harinya, bukan menonjolkan egoisitas sebagai puncak pelampiasan segala amarah dan rasa dendam pada sesama. Kiranya, tinggal memilih apakah kita bisa menjadi minyak wangi atau bau kentut kita sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar