Dawuhnya Kanjeng Rasul saw:
اَلْبِرُّ مَاسَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَئِنَّا إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالاِثْمُ مَالَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلاَتَطْمَئِنَّا إِلَيْهِ الْقَلْبُ
“Kebaikan adalah sesuatu yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, dosa (keburukan) adalah sesuatu yang tidak dapat menenangkan jiwa dan tidak dapat pula menenangkan hati”
Tahukah anda bahwa 50 % lebih faktor kesehatan adalah ketenangan jiwa. Gizi tercukupi, olahraga, istirahat cukup dan lain sebagainya adalah selebihnya. Mengusahakan ketenangan jiwa berarti seseorang harus memaksa kondisi diri untuk selalu menerima dengan lapang dada, menyukuri apa yang telah dimiliki, meng-khusnudzani setiap “ancaman” dari sekitar yang secara rasional membahayakan.
Positif thinking adalah kunci dari semuanya. Bersikap dan bertindak demikian tidaklah mudah, sekalipun para spiritual dan ilmuan yang telah memahami banyak dalil Quran dan hadits, namun tidak menjamin bahwa yang bersangkutan bisa membalut jiwanya dengan khusnudzon manakala diterpa kesusahan karena musibah yang menurutnya mengganggu stabilitas ketenangan hidupnya.
Betul kata guru spiritual yang mengatakan bahwa hakikat dan substansi manusia adalah an-nafs (jiwa). Dari nafs inilah yang menjadikan bentuk perangai dan karakter manusia seutuhnya, bukan alam materi yang bisa dijamah dan dirasa. Alam materi hanyalah sekedar menunjukan wujud nyata untuk berkomunkasi antar sesama, namun jiwa akan terus mengomunikasikan sejarah hidup manusia dengan Tuhannya.
Pada poin inilah, manusia akan terbelah menjadi dua kelompok; kelompok sabar dan berkeluh kesah; bertindak cerdas dan kelompok yang lain berlaku bodoh; menerima apa adanya dan yang selalu merasa kekurangan; selalu bahagia dan kelompok sengsara dan lain sebagainya.
Kenapa banyak orang yang tergolong bodoh, merasa kekurangan, sengsara dan kelompok gagal? Karena mereka berfikir terbalik bahwa mereka beranggapan ketenangan jiwa muncul dan dipengaruhi oleh faktor alam materi. Fatalnya, jika keinginan-keinginan lahir tidak terpenuhi maka mereka menganggap manusia gagal yang tidak pantas melanjutkan sejarah hidupnya.
Sebagaimana dawuhnya Kanjeng Nabi di muka, bahwa sungguhlah sangat mudah untuk memperoleh rasa tenang dan tenteram jiwa dan hatinya. Berbuat baik adalah hal yang sepeleh, tetapi kerap orang tidak mampu mendulang ketenangan jiwa. Ada orang yang telah berbuat baik kepada orang lain, namun tiba-tiba keesokan harinya dia enggan mengulangi kebaikan yang sejatinya dia sendiri mampu berbuat yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Ketenangan jiwa adalah modal utama untuk mencapai kekhusyu’an dalam beribadah kepada-Nya. Semakin tidak tenang hidup seseorang akan membuka peluang untuk semakin terganggunya kesempurnaan beribadah. Dari siniliah, kenapa Kanjeng Rasul menyatakan bahwa doa yang paling baik adalah memohon kepada-Nya untuk diberi kesehatan baik batin maupun dhahir. Sebab jika seseorang tidak sehat, Allah pun memberikan keringanan untuk memenuhi syarat ataupun saat melakukan ibadah-ibadah wajib: puasa, misalnya, bisa ditinggalkannya. Intinya, bahwa ketenangan jiwa bisa kita ciptakan disetiap saatnya, diantaranya dengan selalu berkomunikasi dengan-Nya, untuk selalu memohon anugerah baik kesehatan jasmani maupun rohani serta rajin "curhat" atas keruwetan hidup yang dihadapi. Wallahu a'lamu bial-shawab...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar